Menjemput Tenang di Tepian Toba: Sebuah Catatan Perjalanan

Andi Telaumbanua

Perjalanan kali ini adalah tentang sebuah perjuangan yang dibayar tunai oleh semesta. Cerita dimulai saat roda pesawat yang membawa saya dari Bandara Binaka, Pulau Nias, menyentuh landasan pacu Kualanamu. Pikir saya, gerbang menuju Parapat sudah di depan mata. Namun, petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Mencari transportasi langsung dari Kualanamu menuju Parapat ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya harus akrab dengan ruang tunggu selama hampir tiga jam. Demi menembus jarak, pilihan akhirnya jatuh pada taksi tidak resmi dengan ongkos 170 ribu rupiah—sebuah harga untuk sebuah kepastian jalan.

Di tengah perjalanan yang panjang, kami menyempatkan diri singgah di Pematang Siantar untuk mengisi energi. Kuliner hangat di Siantar seolah menjadi jeda yang manis sebelum kembali menembus malam. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB ketika mobil akhirnya memasuki kawasan Parapat. Lelah? Tentu. Namun, atmosfer magis Danau Toba langsung menyambut begitu saya menjejakkan kaki di Hotel Pandu Lakeside.

Malam itu, kamar hotel yang sangat nyaman memeluk lelah saya. Hotel ini berdiri anggun di pinggiran danau. Saat jendela dibuka, desau angin malam dan aroma khas Danau Toba langsung terasa. Dari balik kaca, hamparan air yang gelap namun menenangkan terlihat langsung, menjanjikan lanskap yang jauh lebih megah esok pagi.

Pesona Parapat dan Sudut-Sudut Indah Toba

Benar saja, pagi hari di Parapat adalah sihir yang nyata. Memandang langsung Danau Toba dari tepiannya memberikan rasa damai yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Airnya yang biru jernih memantulkan langit pagi, dipagari oleh perbukitan hijau menjulang yang berselimut kabut tipis. Duduk diam menatap riak airnya saja sudah menjadi sebuah kemewahan.

Selama di Parapat, aktivitas saya berpusat di Khas Hotel. Tempat ini benar-benar memanjakan mata; tata letaknya rapi, bersih, dan berada di lokasi yang sangat strategis. Berada di sana memberikan pengalaman tersendiri—kita disuguhkan lanskap indah berlatar Pulau Samosir di kejauhan. Keindahan arsitektur yang berpadu dengan alam membuat setiap sudutnya sangat menarik dan instagramable.

Parapat sendiri punya daya tarik yang unik. Selain keindahan alamnya, interaksi dengan warga lokal yang ramah, aroma kopi Sidikalang yang merebak di kedai-kedai pinggir jalan, serta hilir mudik kapal feri yang membelah danau menuju Samosir menjadi pemandangan harian yang menghidupkan suasana. Parapat bukan sekadar tempat transit, melainkan sebuah ruang di mana waktu berjalan lebih lambat.

Perjuangan Jalan Pulang

Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Perjalanan pulang menuju Gunung Sitoli kembali menguji kesabaran. Saya harus estafet: naik mobil dari Parapat menuju Siantar, lalu menunggu lagi hingga tengah malam lewat demi mendapatkan bus menuju Medan.


Saya memutuskan turun di persimpangan menuju Kualanamu saat dini hari. Dalam kondisi kantuk yang luar biasa, saya memesan taksi online menuju d'primahotel untuk sekadar merebahkan badan yang sudah remuk. Pikir saya, setibanya di hotel saya bisa langsung tidur. Namun ternyata, sebuah "drama" baru sudah menanti di meja resepsionis.

Saat hendak menyelesaikan administrasi kamar secara non-tunai, mesin atau sistem mereka mengalami kendala; saldo rekening saya sudah terpotong, namun di sistem pihak hotel, uang tersebut dinyatakan belum masuk. Karena tubuh sudah terlalu lelah untuk berdebat atau menunggu proses pengecekan yang lama, saya memutuskan mengalah. Saya berjalan menuju mesin ATM yang ada di hotel untuk menarik uang tunai, berniat membayar cash saja agar urusan cepat selesai.

Apesnya, setelah uang tunai sudah di tangan, petugas resepsionis justru memberi tahu bahwa hotel mereka menerapkan kebijakan cashless—alias tidak menerima uang tunai! Bayangkan saja: tubuh sudah kepayahan, waktu sudah subuh, uang di rekening sudah kosong karena didebit sebelumnya, dan sekarang uang tunai yang baru ditarik pun tidak diterima. Rasa lelah, kesal, dan bingung bercampur menjadi satu.

Setelah situasi sempat menegang dan melalui proses negosiasi yang cukup alot, petugas resepsionis akhirnya berkoordinasi dengan pihak manajemen atas. Beruntung, melihat kondisi saya yang sudah sangat kelelahan dan situasi sistem yang menggantung, pihak manajemen akhirnya melonggarkan aturan dan bersedia menerima pembayaran tunai tersebut.

Menariknya, drama dini hari itu justru membawa berkah tersendiri. Sebagai bentuk permohonan maaf atas ketidaknyamanan sistem mereka, pihak hotel memberikan saya komplimen berupa sarapan pagi gratis—padahal kamar yang saya pesan awalnya tanpa sarapan. Tidak hanya itu, saat check-out, saya juga diberikan fasilitas transportasi gratis menggunakan bus hotel menuju Bandara Kualanamu bersama dengan beberapa tamu hotel lainnya.

Pagi itu, di dalam bus menuju bandara, saya merenung. Perjalanan ini benar-benar paket lengkap: diuji oleh transportasi di awal, ditenangkan oleh megahnya pemandangan Danau Toba di tengah, diuji lagi oleh sistem perbankan di akhir, namun ditutup dengan keramahan yang manis. Tepat pukul sembilan pagi, saya melangkah ke Bandara Kualanamu untuk terbang kembali ke Gunungsitoli dengan hati yang penuh cerita.
Tags

Posting Komentar

6 Komentar

  1. Masyaallah, tulisannya candu banget dibaca!
    Setuju sekali, menikmati matahari terbit dan terbenam dari bukit di tepian Toba itu pasti rasanya memang magis dan menenangkan jiwa, dan tidak kalah cantiknya dengan Ranu Kumbolo atau Banda Neira .. hiks hiks saya belum ke tiga tempati tu anyway :(((

    Pokoke baca ulasan ini bikin rindu camping sambil memandang perbukitan hijau, bengong cantik tepi danau ... aaaah... alam memang indah yaaa, langsung berseru Allahu akbar :)

    Terima kasih sudah mengemas perjalanan 'menjemput tenang' ini dengan begitu apik, ya. Ditunggu cerita perjalanan seru dan inspiratif berikutnya!!

    BalasHapus
  2. Penasaran sama wisata danau gini, soalnya kalau di Lombok, mau ke danau tahunya ya Danau Segara Anak. Lah itu danaunya di Gunung Rinjani wkwk, meski mendaki dulu sampai sana. Heuheuheu. Jadilah mainnya masih seputar pantai, sungai, air terjun, pulau dan bukit-bukit kecil

    BalasHapus
  3. Wow, semoga deh suatu saat bisa jalan-jalan dan menikmati indahnya danau Toba yang tersohor tersebut. Keren banget kak.

    BalasHapus
  4. duh baca tentang perjalanan di kawasan Sumatra bikin saya melongo
    Maklum baru sekali keluar dari pulau Jawa, itu pun ke rumah adik di Lampung, trus balik lagi
    Oiya pernah ke Bali sewaktu anak anak masih kecil
    Sekarang baca kisahnya Kak Andi serasa ikut jalan-jalan, termasuk ikut cape ketika hotel menolak uang tunai :D

    BalasHapus
  5. Wah saya loh sudah menunggu tulisan dan foto-foto dari tempat cantik di pinggiran Danau Toba itu. Terutama apa yang bisa dinikmati netra saat berada di Khas Hotel. Penasaran sekarang perubahannya seperti apa sekarang karena terakhir saya ke Danau Toba itu di akhir tahun 80-an. Ditunggu tulisan-tulisan apik berikutnya Mas Andi. Saya senang baca keindahan story telling nya.

    BalasHapus
  6. Ini nih yang bikin jengkel ya, Kak. Mbok yo kalau nggak menerima pembayaran tunai tuh proses pembayaran cashlessnnya dipermudah. Konfirmasi masuk atau nggaknya kok yo rumit. hehehe

    BalasHapus
Posting Komentar