Pasang Iklan Disini

Bongkar Silsilah Raksasa HP di Indonesia, Siapa Bersaudara dan Siapa yang Musuhan

Andi Telaumbanua


Halo pembaca setia! Selamat datang kembali di blog tempat kita mengobrol santai seputar dunia teknologi.

Pernah gak sih kalian merasa bingung waktu melihat pasar HP zaman sekarang? Mereknya banyak banget, fiturnya mirip-mirip, terus tiba-tiba ada merek baru yang ternyata saudaranya merek lama. Nah, biar kalian gak pusing lagi, kali ini kita bakal bongkar habis silsilah keluarga raksasa HP dunia yang berseliweran di Indonesia.
Yuk, kita bahas satu per satu dengan santai!

Honor dan Huawei: Kisah Anak yang Terpaksa Mandiri

Kita mulai dari Honor. Kalau kalian ingat, beberapa tahun lalu Honor itu nempel banget sama Huawei. Memang betul, Honor didirikan tahun 2013 sebagai sub-merek Huawei yang tugasnya menyasar anak muda lewat penjualan online—mirip-mirip taktik Xiaomi lah.

Tapi roda berputar. Saat Huawei kena sanksi dagang berat dari Amerika Serikat yang bikin mereka kehilangan Layanan Google, masa depan Honor ikut terancam. Akhirnya, pada November 2020, Huawei mengambil keputusan besar dengan menjual seluruh aset Honor ke konsorsium bernama Shenzhen Zhixin New Information Technology Co., Ltd.

Plot twist-nya, setelah lepas dari Huawei, Honor sekarang jadi perusahaan mandiri. Efek positifnya, HP Honor rilisan terbaru sudah bisa pakai Layanan Google Play lagi dengan normal dan bebas bekerja sama dengan raksasa chip seperti Qualcomm.

Selain Honor, Huawei sendiri sebenarnya punya lini ikonik lain seperti Nova (yang fokus ke desain modis dan selfie), serta sub-merek khusus pasar Tiongkok seperti Maimang dan HiNova yang digandeng bersama operator lokal di sana.

Si Kembar Oppo dan Vivo: Saudara Tapi Saingan!

Banyak yang mengira Oppo dan Vivo itu satu rahim dengan Huawei. Ini salah kaprah, ya! Oppo dan Vivo tidak ada hubungannya sama sekali dengan Huawei. Mereka berdua adalah anak dari konglomerat elektronik raksasa asal Tiongkok, yaitu BBK Electronics Corporation.

Uniknya, meski bersaudara di bawah payung BBK, Oppo dan Vivo di lapangan itu musuh bebuyutan yang punya karakter beda banget. Oppo lebih fokus ke estetika desain bodi dan kamera selfie atau portrait yang natural, serta jagoan pengisian dayanya dikenal dengan nama VOOC Flash Charge. Sementara itu, Vivo lebih senang bereksperimen dengan teknologi mutakhir, seperti gimbal stabilization di kamera belakang dan kolaborasi bareng Zeiss, dengan teknologi charging yang disebut FlashCharge.

Kenapa Sih Perusahaan HP Butuh Sub-Merek?

Kalian pasti ngeh kalau Oppo punya Realme dan OnePlus, Vivo punya iQOO, sedangkan Xiaomi punya Poco dan Redmi. Pertanyaannya, buat apa repot-repot bikin merek baru? Ada strategi bisnis cerdas di baliknya:

Pertama, untuk segmentasi pasar. Merek utama seperti Vivo sudah lekat dengan citra HP fashion atau lifestyle. Supaya bisa memikat anak muda pencinta gaming, mereka bikin sub-merek khusus seperti iQOO yang fokus ke performa murni.

Kedua, untuk perang harga tanpa rusak citra. Bikin HP murah berspesifikasi tinggi itu punya margin untung yang tipis. Kalau pakai nama Oppo atau Samsung, bisa merusak citra premium mereka. Solusinya adalah memakai nama Realme atau Poco untuk merusak harga pasar kompetitor.

Ketiga, untuk eksperimen penjualan. Sub-merek biasanya dijual secara online-first. Tanpa biaya sewa toko fisik dan baliho besar, mereka bisa memotong harga jual jadi jauh lebih murah.

Silsilah Lengkap Penguasa Pasar HP di Indonesia

Nah, buat kalian yang mau beli HP baru, ini dia peta kekuatan merek HP resmi di Indonesia beserta nama perusahaan induk dan bos atau CEO global di belakang layarnya:

Dinasti BBK Electronics

Merek-merek di bawah grup ini meliputi Oppo dan OnePlus yang berada di bawah naungan Guangdong Oppo Mobile Telecommunications Corp., Ltd. dengan CEO global Tony Chen. Kemudian ada Vivo dan iQOO di bawah naungan Vivo Mobile Communication Co., Ltd. dengan CEO global Shen Wei. Serta Realme di bawah naungan RealMe Chongqing Mobile Telecommunications Corp., Ltd. dengan CEO global Sky Li. Merek-merek ini berbagi rantai pasokan komponen yang sama, tapi manajemennya bersaing secara mandiri.

Kerajaan Xiaomi

Kelompok ini menaungi merek Xiaomi dan Poco di bawah induk perusahaan Xiaomi Corporation. Kerajaan bisnis ini dipimpin oleh bos besar sekaligus pendiri dan CEO global yaitu Lei Jun, yang didampingi Lu Weibing sebagai Presiden Xiaomi Group.

Transsion Holdings

Grup ini menjadi sang penguasa HP bujet. Kalau kalian cari HP murah spek gahar di bawah 2 jutaan, tiga merek dari satu induk ini rajanya di Indonesia. Merek yang dinaungi adalah Infinix, Tecno, dan itel. Ketiganya berada di bawah induk perusahaan Shenzhen Transsion Holdings Co., Ltd. yang didirikan oleh George Zhu.

Para Raksasa Global dan Pemain Khusus

Untuk raksasa Korea Selatan ada Samsung di bawah naungan Samsung Electronics Co., Ltd. dengan CEO divisi HP yaitu TM Roh. Untuk Amerika Serikat ada Apple dengan produk iPhone miliknya di bawah naungan Apple Inc. yang dipimpin oleh CEO global John Ternus.

Selanjutnya ada Asus dengan produk ROG Phone dan Zenfone asal Taiwan di bawah naungan ASUSTeK Computer Inc. yang dipimpin oleh Co-CEO S.Y. Hsu dan Samson Hu. Ada juga Nothing Phone yang merupakan merek estetik dengan lampu di bodi belakang di bawah naungan Nothing Technology Limited dengan CEO dan pendiri Carl Pei. Terakhir, ada merek lokal seperti Advan, Axioo, Evercoss, dan Luna yang masih bertahan merilis tablet dan HP entry-level buatan dalam negeri.

Kesimpulannya, persaingan di kantong celana kita ini sebenarnya dikendalikan oleh segelintir perusahaan raksasa saja. Tapi sebagai konsumen, kita justru diuntungkan karena banyaknya pilihan sub-merek membuat harga HP berspesifikasi tinggi jadi makin terjangkau!

Kira-kira dari daftar di atas, HP dari keluarga mana nih yang sekarang lagi ada di genggaman kalian? Tulis di kolom komentar, ya!

Posting Komentar

17 Komentar

  1. Astagaa kalo ngga karna baca ini aku ngga tau ternyata ada merk iQOO, onplus dan honor loh...
    Taunya samsung, oppo, vivo dan iphone doang aku tuuh.
    saking ceteknya pengetauan soal hp, aku kalo beli hp baru ngga mau merk selain 4 itu, huhuuu.
    Padahal katanya kek realmi itu sebenernya baguss banget ya katanya?

    BalasHapus
  2. Dulu saya penggemar berat Nokia. Sampai gak mau pakai merk lain. Tapi, makin ke sini perkembangan Nokia kayak ketinggalan (cmiiw). Gak sesuai juga dengan kebutuhan saya. Akhirnya begitu butuh hp baru, saya melirik brand lain yaitu Samsung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, siapa yang tidak tahu nokia. Tapi karena terlambat membaca zaman, akhirnya ketinggalan

      Hapus
  3. wah baru tahu bahwa Oppo punya Realme dan OnePlus
    walau termasuk kaum boomer, saya selalu suka mencoba
    ketika yang lain masih BBM, saya udah ngutak ngutik Samsung dengan android
    (anehnya di Bandung dulu nama android lebih ditonjolkan dibanding Samsung, gak tau apa sebabnya)
    Kemudian ketika teman-teman saya beralih ke Samsung, saya udah ke Oppo karena kepincut kameranya. Sekarang sih pakai Vivo karena RAM dan storage, karena rata-rata kamera HP udah bagus ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya dulu beralih dari samsung ke vivo karena baterainya samsung mudah soak. Sekarang masih setia dengan vivo

      Hapus
  4. ya ampuuun, baru tahu. beneran gak pernah ngulik soal HP. biasanya beli HP dari rekomendasi aja. terakhir yang beli itu oppo, lalu redmi. tak pikir mereka berkerabat. yang berkerabat ternyata realme, ya. hihi. yang terakhir si HP hadiah. yang ngasihnya sukanya samsung, ya sud, terima saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Demi pasar yang berbeda-beda perusahaan sengaja buat brand baru

      Hapus
  5. Meski pada mandiri, tetep aja kalau mau ceki² buat beli di e-commerce mereka masih satu payung kayak mau cari Poco atau Redmi nyarinya di Xiaomi Official. Begitu juga mo cari Honor malah adanya di Huawei Official. Yang pisah banget di e-commerce itu keluarga Oppo dan Infinix.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ia juga sih, mungkin itu biar gak merepotkan aja

      Hapus
  6. Emang ngeri sih kalo udah terjun di bisnis ritel dan elektronik, saingan pasti ada. Dan memang satu satunya cara efektif memang pemilik industri ponsel harus bisa adaptif dengan perkembangan teknologi dan berinovasi secara keberlanjutan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu strategi mereka, ya menciptakan saingan sendiri. Biar tetap menguasai pasarnya

      Hapus
  7. Sebagai pecinta OPPO (hahahhaa ketahuan) ini tipe tulisan yang bikin saya merasa, “Lho, ternyata dunia HP serumit itu ya?” 😄 Selama ini sebagai pengguna kita seringnya cuma kenal merek, lihat kameranya bagus atau enggak, memorinya berapa giga, lalu ujung-ujungnya tetap menimbang harga sambil buka marketplace. Hahaha.

    Tapi membaca tentang “silsilah” di balik raksasa HP ini jadi menarik, karena ternyata di balik nama besar yang kita lihat di etalase ada sejarah, perjalanan, persaingan, bahkan hubungan antarmerek yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita.

    Saya suka tulisan seperti ini karena teknologi jadi terasa lebih manusiawi. Bukan sekadar soal spesifikasi dan angka, tapi ada cerita panjang di belakangnya. Dan begitulah enaknya jadi blogger lawas, kadang kita datang cuma mau baca satu tulisan, eh pulangnya malah membawa pengetahuan baru.

    BalasHapus
  8. Oh OnePlus itu punya OPPO tho. Dulu kupikir OnePlus itu merek yang berdiri sendiri gitu lho.

    Temanku pernah beli HP yang mereknya OnePlus gitu deh.

    Realme itu malah kupikir sodaraan sama Redme. Benar-benar ya aku. hehehe....

    BalasHapus
  9. Makin banyak merk, makin bingung milihnya. Tapi merk2 tersebut menawarkan speaifikasi dan harga yang menggiurkan. Persaingan jadi cukup ketat ya. Dan baru tahu lo silsilah per merk HP an yang ada itu kayak gimana.n

    BalasHapus
  10. Nah, kebetulan udah hampir 7 tahun ini aku konsisten pake Xiaomi karena secara harga terjangkau dan menawarkan fasilitas serta fitur sesuai dengan kebutuhan.

    Lewat artikel ini jadi tau kalau Huawei ternyata dulunya tuh punya sub perusahaan Honor, dan kini Honor sudah mandiri berpisah dari Huawei, jujur aku suka sama teknologi Huawei meski jadi susah di pake karena nggak ada layanan google nya.

    BalasHapus
  11. Aku baru tau kalau iQOO adeknya Vivo yaa..
    Aku dulu pernah kembarin HP bapak sama papa mertua dengan merk ini ((yang pada jama itu masiii sangaatt terjangkau dengan design yang menarik)).

    Makin gila yaa.. dunia elektronik.
    Melek sikit, uda ada gebrakan baru yang sebenernyaaa.. mirip mirip sama versi pendahulunya.. cuma namanya model ini mengikuti trend.

    BalasHapus
Posting Komentar